Gaza, sebuah kota di semenanjung Laut Merah. Kali ini, pagi menyelimuti pinggirannya. Layaknya pasir yang menyelimuti pesisir. Sebuah rumah mungil dengan temaram lampu bulat, turut menambah kesyahduan pagi itu. Di dalamnya, tampak sepasang suami istri yang menggantungkan harapan pada Rabb mereka. Sederhana sepertinya, namun pernikahan yang telah menginjak tahun kelima membuat mereka amat menginginkan seorang keturunan. Ya, kehadiran buah hati di tengah-tengah kehidupan mereka mungkin akan menyempurnakan kebahagiaan.
Debu di daun jendela kian menebal. Sang istri yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah, tiba-tiba saja merasa lemas. Perutnya mual seperti hendak mengeluarkan sesuatu dari perutnya. Penglihatannya pun menjadi kabur, dan wajahnya semakin pucat. Sang istri semakin tak berdaya dengan keadaan getirnya. Tak lama kemuadian ia pingsan. Beberapa menit, suaminya pun tiba dan terkejut melihat sang istri dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Suaminya panik, diboponglah ia menuju rumah seorang bidan. Dan, berita yang selalu ditunggu pun tiba. Ketika semua berasumsi dengan kemustahilan, bukti menunjukkan bahwa Allah selalu mengabulkan apa yang hambaNya harap. Sepasang suami istri tersebut telah menjadikannya nyata. Harapan untuk memiliki keturunan, kini bukan impian lagi. Setelah dinyatakan positif oleh ibu bidan, tak henti-hentinya mereka berucap syukur.
Burung camar terbang landai, mencoba mengadu rizki di lautan Palestina. Pancaran cahaya matahari perlahan menembus, memasuki tirai-tirai kamar mungil. Membangunkan seorang ibu seperempat baya yang sedang tertidur lelap. Perlahan-lahan, ia membuka mata. Mengucapkan syukur pada-Nya atas segala nikmat yang telah diberikan hingga hari ini. Sang ibu pun terbangun dari tidurnya, seraya mengelus perutnya yang mengandung seorang bayi.
“Selamat pagi kecil.” ucapnya sambil tersenyum. Ia merasa amat bahagia atas kehamilannya yang telah berlangsung selama tiga bulan ini. Suaminya pun datang, membawakan segelas susu hangat untuknya. Ah, benar-benar keharmonisan yang sempurna.
Enam bulan masa kehamilan, wanita muda itu memandang keluar jendela, ia menerawang kembali ingatan dan harapan yang hampir membuatnya putus asa. Kehamilan pertama ini sangat lah terasa berat bagi sang ibu. Kali ini, semua tanggung jawab sebagai orang tua harus ia tanggung sendiri. Suaminya, yang telah menemani selama lima tahun, tak dapat luput dari ledakan di pusat kota Gaza. Bom yang menghancurkan sekitar dua gedung sekolah anak-anak Palestina itu menelan puluhan korban sipil. Ya, sejak tiga bulan yang lalu, Israel kembali menaikkan bendera perang untuk Palestina. Membabi buta menghancurkan tempat-tempat di pusat kota. Sang ibu muda itu hanya dapat diam, berdoa untuk kesyahidan suaminya.
Rasa lemas, mual dan pusing terus dirasakan oleh sang ibu. Dibandingkan dengan penantian, harapan, serta doa yang tak henti-hentinya yang ia panjatkan dahulu, kehamilan ini layaknya sebuah amanah dari terkabulnya hal-hal tersebut. Apa pun kesulitan dan rintangan yang dialaminya, ia akan tetap selalu merasa bahagia dan bersyukur. Ia hanya yakin pada Allah. ”Hasbunallah wa ni’mal wakil.(1)” selalu terselip kalimat itu di setiap doa malamnya.
Seiring berjalannya waktu, kandungan sang ibu semakin membesar. Ikatan yang terjalin antara sang ibu dan si kecil pun semakin kuat. Tak jarang ketika ibu sedang bercerita atau mengelus-ngelus perutnya, ia merasakan si kecil menendang-nendang perutnya. Seakan mengerti perasaan si ibu. Air matanya menitik, ia membayangkan ketika suaminya duduk di sampingnya, berbagi kebahagiaan tentang si kecil.
Dan tibalah di suatu malam yang sunyi. Sang ibu merintih kesakitan di atas tempat tidurnya. Kandungannya yang berusia delapan bulan 28 hari itu terasa begitu sakit. Ia pun bangun dan mengganti pakaiannya. Lalu, dengan segera pergi ke rumah bidan yang berjarak dua rumah dari rumahnya. Sang bidan pun segera menangani ibu. Diantarnya ia ke kamar persalinan dan menyuruhnya untuk berbaring. Tak lama kemudian, ketuban ibu pecah, sang bidan pun segera mengambil tindakan untuk melakukan proses persalinan. Dua jam lamanya proses persalinan itu berjalan. Tepat pada pukul sebeas malam, tangisan pertama si kecil pecah, terdengar nyaring, menyambut dunia yang akan menjadi awal kisahnya kelak. Sang ibu yang masih terbaring lemas di atas ranjangnya, menangis haru atas kehadiran sang bayi. Saat itu juga ia meraih dan memeluk bayinya. Berjanji untuk bersunggguh-sungguh menjaganya dan mengasuhnya dengan seluruh jiwa raga.
***
Matanya bulat, bibirnya merah delima. Kulitnya putih layak susu, pipinya kemerah-merahan, yang menurut istilah arab adalah ”Humaira” (panggilan sayang Rasul terhadap istrinya Aisyah karena pipinya kemerah-kemerahan). Dapat disimpulkan paras dari bayi mungil yang baru 2 minggu itu, jelita. Lagi-lagi sang ibu muda menitikkan air mata. Mirip. Ia teringat suaminya, persis serupa itu. Namun, buru-buru ia usap air mata itu. Bayinya merengek, meminta didekap kehangatan oleh sang ibu. Sambil bersenandung lagu tidur, akhirnya kedua hamba Allah itu pun tertidur pulas bersama mimpi-mimpi terindah mereka.
"Dhar. . .! Dar...!" Bunyi mesiu menggelegar dari balik bilik kamar mungil itu. Si kecil yang tertidur pulas dalam pangkuan ibunya terbangun, menangis seketika. Perempuan seperempat baya yang memangkunya, segera menutupkan selimut sebagai sarana untuk berlindung. Wajahnya pias, dengan seribu kekhawatiran, desingan dari tank-tank baja masih menderu, dia mencoba untuk berlindung pada-Nya.
“Ya Rabb, perang itu dimulai lagi.” dia mendesis, memeluk buah hatinya.
Suara itu semakin menggebu, seakan meruntuhkan tembok rumah kecil tempat tinggal mereka. Jauh di luar sana, terdapat benda bulat kecil yang mengapung, menuju tempat berjarak 750 meter dari rumah kecil itu.
Dan, "Bummm...!"
Ledakan dahsyat kali ini meluluh lantakkan sebuah desa di pinggiran Gaza. Entah berapa insan yang masih tersisa atau pun yang sudah terkapar beku. Yang jelas, di dekapan wanita seperempat baya itu, bayi mungil dambaannya, sudah tak bernyawa. Wajah kecil bermata bulat itu membisu, melukiskan gurat yang dalam pada hati ibunya.
“Rabb!! Allahu Akbar…!” lengking teriakannya naik, menuju Arsy-Nya. Seketika awan pun berarak pelan. Meneduhi perempuan dan bayi kaku itu, di balik reruntuhan puing-puing rumah yang sudah setengah hancur, alam pun bersaksi atas hikmah Rabb. Sesungguhnya Allah mempunyai rahasia di balik semua ini, sebuah kado bagi ibu muda itu, dari bayi kecilnya
Tiga hari berlalu, sang ibu masih dalam posisi yang sama. Mendekap lutut. Masih membekas dalam ingatannya saat wajah mungil itu terkulai. Tatapannya kosong, bibirnya bergumam tak jelas seolah mengumpat sumpah serapah bagi pelaku peledakan itu. Sesal yang amat telah membuatnya separuh gila. Pikirannya pun masih melambung. Ia frustasi, seperti jasad dengan ruh yang kosong. Ia merasa Rabb tidak adil. Setelah ia renggut suami tercintanya karena ledakan bom, kini giliran anaknya yang menjadi dambaannya selama lima tahun.
Tidak adil, Mungkin itulah yang dijeritkan dalam hatinya. Pada hakikatnya, adil bukanlah membagi sesuatu menjadi dua bagian sama besar, namun adil adalah menempatakan sesuatu pada waktunya. Sesungguhnya, Allah selalu menunjukkan keadilanNya, seluruh hal dalam dunia ini telah menjadi sunnatullah.
Tiba-tiba terdengar suara kecil yang kian lama, kian terdengar lembut dan jelas. “Maryam, sabar sayang! Kau tidak pernah tau apa yang digariskan Allah. Percayalah, semua akan memihak pada kebenaran, tak perlu dendam. Anggaplah buah hatimu adalah sebuah tabunganmu di surga.
Maryam, ketahuilah. Anak dan suamimu bukanlah milikmu. Dia adalah titipan Allah. Sadarlah sayang! Kehidupan itu milikNya! Sekarang, bangkitlah! kuatkan diri dan tegakkan bahumu! Sesungguhnya Allah akan memihak pada kebenaran.”
Perempuan muda itu tersentak. Pikirannya kembali. Kini ia sadar, wajah mungil itu bukan terkulai namun tersenyum. Lalu, seolah-olah ia melihat suaminya tersenyum di sampingnya sambil mengelus-elus bayi mungil mereka dan berkata, ”Biarkan aku yang membawa anak ini ke surga.” Fabiayyi Aalaai Rabbikumaa tukadzibaan?(2).
(1). Cukuplah Allah sebagai penolongku
(2). Lalu nikmat Rabb apalagi yang kalian dustakan?
Oleh Bintangbiru 1710
Labels: cerpen religi, tragedi
